Clean Development Mechanism
Clean Development Mechanism program industri sawit
Clean Development Mechanism adalah salah satu program menurunkan gas rumah kaca (GRK) negara berkembang termasuk Indonesia sebagai salah satu program dunia di bawah PBB dalam rangka mengantisipasi global warming. Gas Rumah Kaca (GRK) yang di sepakai dunia yang paling berbahaya ada 6 macam yaitu CO2 (carbondioksida), CH4 (gas methane), N2O, HFC (freon), PFC dan SF6. Masing masing gas tersebut mempunyai tingkat berbahaya (Global Warming Potential = GWP) yang berbeda beda. Dengan berbasis pada gas CO2 = 1 GWP, maka gas CH4 mempunyai 21 kali lebih berbahaya dari pada gas CO2, freon mempunyai tingkat bahaya 1700 hingga 12,000 kali lebih berbahaya di bandingkan gas CO2 dan seterusnya.
Apakah tanda tanda terjadinya global warming (pemanasan global)…
Dari para peneliti dunia di dapatkan data bahwa telah terjadi kenaikan 0,8 deg C suhu di permukaan bumi selama 100 tahun terakhir (basis data tahun 1900 – 2000). Juga terjadi kenaikan konsentrasi gas CO2 eq di kutup utara dari 200 menjadi 400 ppm. Semakin besar GHG (green house gas) yang ada di permukaan atmosfir bumi maka semakin besar pula “perangkap panas” sinar matahari di permukaan bumi yang menyebabkan permukaan bumi menjadi semakin panas.
Kenaikan panas di permukaan bumi ini menjadikan es di kutup utara lebih cepat mencair. Dari data para peneliti, hingga tahun 2000 terdapat kenaikan 20 cm permukaan laut di bumi, sehingga banyak pulau pulau di dunia menjadi tenggelam, kota kota di dunia mengalami banjir, musim tanam dengan musim kemarau menjadi tidak jelas, muncul banyak penyakit baru, flora fauna yang banyak berubah dll.
Apa yang harus di lakukan….
Para peneliti dunia tahun 1979 melakukan konverensi perubahan iklim yang pertama hingga tahun 1997 keluarlah kesepakatan Kyoto Protocol di mana 55 negara maju sepakat untuk menurunkan GHG 5% di bawah ambang batas yang telah di buang dulu tahun 1990 di masing masing negara. Periode pertama Kyoto Protocol berlaku tahun 2008 hingga akhir tahun 2012 mendatang. Melalui schema Clean Development Mechanism inilah, setiap industri di Indonesia yang ikut andil dalam menurunkan gas rumah kaca akan bisa claim berupa uang ke negara maju via PBB.
Clean Development Mechanism program industri sawit :
Industri sawit mempunyai kandungan limbah organik yang tinggi dengan COD lebih dari 60,000 ppm. Sebagian besar pengolahan limbah industri sawit di Indonesia masih di olah secara konvensional dengan membuat beberapa lagoon terbuka untuk menurunkan temperature dan membuat kolam anaerobic terbuka. Kondisi ini menyebabkan gas methane yang terbentuk terbuang ke udara bebas, padahal tingkat bahaya gas methane ini 21 GWP lebih berbahaya di bandingkan dengan gas CO2.
Indonesia sebagai negara terbesar di dunia dalam memproduksi minyak sawit mempunyai peluang yang besar ikut andil dalam program Clean Development Mechanism ini. Setiap 300,000 FFB/tahun bisa menghasilkan carbon credit sekitar 30,000 CER (certified emission reduction), senilai 159,000 USD/tahun. Program ini bisa diclaim selama 10 tahun.
Bagaimana dengan anda !
Sumber : http://groups.yahoo.com/group/K3_LH/message/40933?var=1
Tagged with: clean development system • efek rumah kaca • gas rumah kaca • kyoto protocol
Filed under: Sistem Manajemen Lingkungan
Like this post? Subscribe to my RSS feed and get loads more!
