Penentuan Toleransi Alat Ukur

Toleransi alat ukur

Penentuan toleransi alat ukur merupakan hal yang wajib bagi perusahaan dalam menilai kelayakan alat ukur yang digunakan. Penentuan toleransi alat ukur ini biasanya dalam perusahaan ditentukan oleh departemen quality assurance / lebih dikenal dengan jaminan mutu.

Penentuan toleransi alat ukur terkadang menjadi masalah yang rumit, layaknya menghadapi 2 sisi mata uang, kita dihadapkan dengan penentuan toleransi alat yang tidak terlalu sempit sehingga alat yang sudah berumur tahunan yang mungkin tingkat akurasinya sudah berkurang masih dapat kita gunakan, sedangkan disisi lain kita berharap agar penentuan toleransi alat ukur yang tidak terlalu lebar sehingga pengukuran yang kita lakukan tidak berakibat buruk terhadap mutu produk yang dihasilkan.

Menurut saya pribadi, penentuan toleransi alat ukur ini adalah penggabungan dari ilmu dan pengalaman dalam menangani suatu alat bersangkutan.

Pelatihan Penentuan Toleransi Alat Ukur

Pelatihan toleransi alat ukur ini bisa diibaratkan sebagai short cut / jalan pintas bagi perusahaan yang mempunyai kepentingan dalam penentuan toleransi alat ukur yang mereka miliki. Karena setiap perusahaan mempunyai alat ukur yang mungkin berbeda antara satu dengan yang lainnya, maka adanya pembimbing / trainer sangatlah penting. Dengan adanya pembimbing / trainer diharapkan perusahaan lebih mengenal karakteristik terhadap alat ukur yang mereka gunakan.

Pelatihan penentuan toleransi alat ukur pun biasanya juga menyertakan penjelasan tentang bagaimana menentukan suatu alat perlu dilakukan “adjustment” ataupun di “repair” serta jaminan mutu hasil pengukuran.

“Pelatihan Penentuan Toleransi Alat Ukur & Jaminan Mutu Klik Disini

Toleransi Alat Ukur

Toleransi alat ukur

Karena masih pemula dalam dunia kalibrasi, pertanyaan yang sering saya hadapi adalah “bagaimana menghubungkan hasil sertifikat kalibrasi dengan suatu alat ukur untuk menentukan bahwa alat ukur tersebut masih layak atau tidak”.

Seperti kita ketahui, didalam sertifikat kalibrasi biasanya hasil yang kita peroleh adalah “koreksi dan ketidakpastian”. Lalu dibandingkan dengan apakah kedua hal tersebut untuk menilai alat layak atau tidak?

Apakah dengan akurasinya?

Ataukah dengan hal lainnya?

Akhirnya jawabanya terjawab sudah setelah saya posting pertanyaan tersebut di forumkalibrasi@yahoogroup.com. Artikel ini saya copy dari blog nya pak praba (http://probodj.wordpress.com/).

“Pelatihan Penentuan Toleransi Alat Ukur & Jaminan Mutu Klik Disini

Cara Menentukan Toleransi Alat Ukur :

Di milis forumkalibrasi@yahoogroups.com muncul sebuah pertanyaan: “bagaimana cara menentukan toleransi alat jika alat tersebut benar2 baru dan baru akan dikalibrasi?”

Sebelum membahas “bagaimana menentukan toleransi alat ukur”, kita bahas dulu makna “toleransi”.

Tolerate yang menjadi akar kata tolerance (toleransi), oleh New Oxford American Dictionary diartikan kira-kira “mampu menanggung sesuatu (yang buruk) tanpa efek buruk”. Kalau diartikan lebih bebas, toleransi berarti: kemampuan menerima suatu penyimpangan (dari kondisi ideal) tanpa terjadinya efek yang buruk.

Dalam dunia industri, toleransi merupakan bagian dari spesifikasi suatu produk. Dalam konteks ini, toleransi dapat diartikan “besarnya perbedaan antara kondisi aktual dibandingkan kondisi ideal, sejauh bahwa perbedaan tersebut tidak sampai mengakibatkan kegagalan fungsi maupun penurunan fungsi yang signifikan”. Misalkan sebuah komponen mesin mempunyai spesifikasi ukuran 90 mm dengan toleransi ±0,1 mm. Ini berarti bahwa komponen tersebut masih dapat berfungsi dengan baik asalkan ukurannya di antara 89,9 mm dan 90,1 mm.

Setelah melalui proses produksi, hasil yang diharapkan adalah suatu produk yang memiliki ukuran atau sifat-sifat lain sesuai spesifikasi dan toleransi yang telah ditetapkan. Karena itu dilakukan pengujian mutu terhadap produk tersebut, dengan cara melakukan pengukuran. Hasil pengukuran dibandingkan dengan spesifikasi tadi. Jika hasil pengukuran menunjukkan bahwa produk tersebut mempunyai ukuran sesuai dengan spesifikasi, maka produk tersebut dinyatakan “sesuai dengan spesifikasi”.

Di dalam proses pengukuran tadi, terdapat sumber-sumber ketidakpastian pengukuran, sehingga hasil pengukuran pun mempunyai nilai ketidakpastian pengukuran. Maka dalam paradigma terbaru, penilaian kesesuaian (conformity assessment) harus memperhitungkan nilai ketidakpastian dan nilai pengukuran. Suatu produk baru dapat dikatakan “sesuai dengan spesifikasi” jika memenuhi ketentuan:

E + U ≤ T

dengan:

E = penyimpangan dari spesifikasi (absolut)

U = nilai ketidakpastian pengukuran (pada tingkat kepercayaan 95 persen)

T = toleransi untuk produk tersebut (absolut)

Dengan kata lain, nilai ketidakpastian pengukuran harus lebih kecil daripada toleransi yang diberikan untuk produk yang diukur. Idealnya nilai ketidakpastian pengukuran besarnya sepersepuluh dari toleransi, atau dalam kondisi terburuk, nilai ketidakpastian pengukuran diharapkan tidak lebih dari sepertiga toleransi.

Uraian di atas menunjukkan bahwa “toleransi” berkaitan dengan produk yang diukur, bukan dengan alat ukurnya. Untuk alat ukur, VIM (kosakata metrologi internasional) 2008 memberikan istilah maximum permissible error (MPE). Antara MPE dan toleransi memang ada kesamaan makna, tetapi dianjurkan untuk tidak dicampuraduk.

Kembali ke proses di atas, maka seharusnya urutan yang benar adalah:

1. Spesifikasi dan toleransi (T1) untuk sebuah produk ditetapkan;

2. Pengukuran terhadap produk tersebut dilakukan dengan sistem pengukuran yang mempunyai ketidakpastian pengukuran (U1) cukup kecil dibandingkan toleransi T1;

3. Alat ukur yang dipakai dalam sistem pengukuran tersebut dikalibrasi menggunakan sistem kalibrasi yang dapat memberikan nilai ketidakpastian pengukuran (U2) lebih kecil daripada U1;

4. dan seterusnya.

Jadi, pada saat kita akan mengalibrasi alat ukur, harus sudah jelas dulu berapa MPE (bukan toleransi) untuk alat ukur tersebut. Baru kita mengevaluasi ketidakpastian pengukuran dari kalibrasi tersebut, supaya kita bisa menilai apakah ketidakpastian pengukuran tersebut memadai (cukup kecil) dibandingkan MPE-nya.

Ibaratnya, kalau mau mengemudikan sebuah kendaraan, tentukan dulu tujuannya! Jangan mulai menjalankan kendaraan kalau kita belum tahu ke mana tujuannya. “Toleransi objek ukur” adalah tujuan yang ingin dicapai; pengukuran atau kalibrasi alat ukur dan evaluasi ketidakpastian adalah cara untuk mencapai tujuan tersebut.

Sumber : http://probodj.wordpress.com/