Pemantauan Alat Ukur

pemantauan alat ukur

Pemantauan alat ukur

Berbicara masalah ini, kadang dalam dunia industri kita sering mengabaikannya. Banyak yang mengira bahwa alat ukur mereka sudah sesuai penggunaannya bahkan masih dinilai layak digunakan. Mereka berkelit bahawa alat ukur tersebut sudah terkalibrasi sehingga sudah bisa digunakan tanpa menghiraukan apa yang ada dalam isi sertifikat kalibrasi tersebut.

Anehnya lagi yang sering terjadi di dalam dunia industri, kalibrasi terhadap alat ukur mereka cuma digunakan sebagai sarana dalam memenuhi persyaratan klausul ISO 9001 : 2008 dimana rekaman hasil kalibrasi dan verivikasi harus dipelihara. Padahal dari sertifikat kalibrasi alat pengukuran ini banyak informasi yang bisa kita manfaatkan sehingga dapat mencegah output (produk) yang dihasilkan tidak memenuhi persyaratan.

Contoh kasus yang berhubungan dengan pemantauan alat ukur mungkin bisa digambarkan spt ini :

1. Bayangkan, sebuah perusahaan memproduksi kartu SIM CARD untuk telepon selluler, kartu SIM CARD tersebut mempunyai panjang x dan lebar y, karena alat ukur yang kita gunakan sebenarnya sudah mempunyai koreksi yang tidak kita hiraukan, hasilnya pun dapat diprediksi bahwa kartu SIM CARD tersebut akan keluar dari spesifikasinya yang berakibat tidak bisa terbacanya kartu tersebut dalam telephon selluler.

Dalam hal ini, pemantauan alat ukur dimensi panjang misalnya caliper harus diperhatikan supaya menghasilkan produk (kartu SIM CARD) yang memenuhi persyaratan.

2. Bayangkan juga, jika sebuah perusahaan beton tiang pancang memproduksi beton dengan kekuatan tertentu, karena alat pengukur kekuatan beton mereka tidak terkalibrasi hasilnya mungkin kita mendapatkan beton yang spesifikasinya tidak sesuai standar (lebih lemah misalnya). Jika beton ini ternyata dipasang pada suatu jembatan yang harusnya beton tersebut mampu menahan beban 100 ton ternyata hanya mampu menahan beban 90 ton, kita bisa prediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mungkin dari 2 kasus tersebut kita bisa beranggapan bahwa pemantauan alat ukur tidaklah bisa kita anggap remeh. Karena hal tersebut, tidaklah mengherankan standar sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2008 mempersyaratkan pemantauan alat ukur dalam salah satu klausulnya.

Klausul 7.6 – Pengendalian Peralatan Pemantauan dan Pengukuran

Perusahaan menetapkan pemantauan dan pengukuran yang diperlukan serta menetapkan peralatan pemantauan dan pengukuran yang dibutuhkan untuk memberikan bukti adanya kesesuaian produk pada persyaratan yang telah ditetapkan.

Perusahaan menetapkan proses untuk memastikan bahwa pemantauan dan pengukuran dapat dilakukan dengan cara yang konsisten dengan persyaratan pemantauan dan pengukuran.

Jika diperlukan untuk memastikan validitas hasil, peralatan pengukuran harus :

a. Dikalibrasi / diverivikasi / keduanya pada selang waktu tertentu / sebelum digunakan, terhadap standar pengukuran yang tertelusur ke standar internasional / nasional, bila tidak ada standar yang tersedia, dasar yang dipakai untuk kalibrasi / verivikasi harus dicatat

b. Disetel / disetel ulang seperlunya

c. Memiliki indentifikasi untuk menentukan status kalibrasinya

d. Dijaga dari penyetelan yang membuat hasil pengukuran tidak sah

e. Dilindungi dari kerusakan dan penurunan mutu selama penanganan, pemeliharaan, dan penyimpanan

Perusahaan mengkaji dan mencatat validitas hasil pengukuran sebelumnya jika peralatan ditemukan tidak memenuhi persyaratan. Perusahaan juga melakukan tindakan pada peralatan dan produk manapun yang terpengaruh. Rekaman hasil kalibrasi dan verivikasi dipelihara.

Bila dipakai dalam pemantauan dan pengukuran persyaratan tertentu. Kemampuan perangkat lunak komputer harus ditegaskan. Aktivitas ini dilakukan sebelum pemakaian awal dan ditegaskan kembali sesuai kebutuhan.

Pengendalian Dokumen

pengendalian dokumen iso 9001 : 2008

pengendalian dokumen

Pengendalian dokumen

Mendengar 2 kata tersebut terkesan sederhana, tetapi aplikasinya mungkin sangatlah rumit terutama jika menyangkut perusahaan yang besar. Bayangkan, akan banyak sekali prosedur (meskipun dalam iso 9001 : 2008 hanya mewajibkan 6), instruksi kerja, serta rekaman2 yang harus kita kendalikan. Jadi tidak mengherankan jika setiap audit internal pengendalian dokumen ini seakan menjadi temuan rutin seorang auditor.

Karena pengendalian dokumen ini sangat penting maka wajar saja klo persyaratan ISO 9001 : 2008 mewajibkan suatu perusahaan menetapkan prosedur nya. Karena tanpa prosedur pengendalian dokumen ini sangatlah mustahil menjalankan sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2008 secara efektif dan efisien.

Identifikasi dokumen pun dipersyaratkan harus jelas, mungkin kita bisa mengilustrasikan dengan kondisi berikut :

“Seorang atasan baru bekerja, dan dia memiliki kurang lebih 50 anak buah, kita bisa membayangkan bagaimana atasan ini akan mengkoordinir pekerjaan bawahannya jika dia sendiri tidak mengenal siapa dan apa tugas bawahannya tersebut, Nah dengan mengenal nama & tugas serta wewenang bawahannya (identifikasi) maka dapat dipastikan atasan tersebut bisa mengkoordinir bawahannya untuk melakukan tugas secara efektif dan efisien”

Nb : Pedoman mutu, merupakan salah satu dokumen yang juga perlu dikendalikan.

Klausul 4.2.3 Pengendalian Dokumen :

Perusahaan mengendalikan dokumen yang diminta oleh sistem manajemen mutu termasuk diantaranya catatan atau rekaman bukti aktifitas proses sesuai persyaratan pengendalian catatan mutu.

Perusahaan menetapkan prosedur terdokumentasi untuk pengendalian dokumen dengan tujuan untuk :

a. Menyetujui kecukupan dokumen sebelum diterbitkan.

b. Meninjau, memperbarui, dan menyetujui ulang dokumen

c. Memastikan perubahan dan status revisi terbaru dari dokumen terindentifikasi dengan jelas.

d. Memastikan versi yang berlaku tersedia di tempat kerja.

e. Memastikan dokumen dapat dibaca dan mudah dikenali.

f. Memastikan dokumen yang berasal dari luar dan ditentukan oleh perusahaan untuk perencanaan dan operasi sistem manajemen mutu dapat teridentifikasi dan distribusinya dikendalikan.

g. Mencegah terpakainya dokumen yang sudah kadaluwarsa dan memberikannya identifikasi yang jelas apabila dokumen tersebut disimpan untuk maksud tertentu.

Semoga bermanfaat.

Pedoman Mutu (Manual Mutu) – Apa Itu?

pedoman mutu

Bagi perusahaan yang ingin menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2008 maka pedoman mutu / manual mutu ini adalah wajib ada hukumnya karena memang dipersyaratkan oleh standar ISO 9001 : 2008.

Apa sih sebenarnya pedoman mutu / manual mutu itu sendiri?

Sesuai dengan namanya pedoman mutu, pedoman bisa diartikan sebagai peta bagaimana suatu perusahaan mengelola bisnisnya. Pedoman mutu ini merupakan dokumen induk yang digunakan sebagai referensi dari prosedur mutu.

Pedoman mutu ini sangatlah penting karena dengan membaca pedoman mutu ini diharapakan karyawan ataupun pelanggan yang membutuhkan dapat mengetahui bagaimana perusahaan berkomitmen dan menjalankan bisnisnya sesuai dengan standar sistem manajemen mutu.

Lalu Apa Saja Sih Isi Pedoman Mutu?

Dalam klausul 4.2.2 ISO 9001 : 2008 setidaknya ada 3 point yang dipersyaratkan dalam pedoman mutu. Tetapi biasanya perusahaan menambahkan informasi2 lainnya seperti :

1. Profil perusahaan

2. Struktur organisasi

3. Job description

4. Flow business proses

5. Persyaratan dan alasan terhadap persyaratan standar ISO 9001 : 2008 yang tidak diaplikasikan

6. Kebijakan mutu

7. Surat penunjukan wakil manajemen

Bunyi klausul 4.2.2 ISO 9001 : 2008 tentang pedoman mutu adalah sebagai berikut :
Perusahaan menetapkan dan memelihara manual mutu yang isinya mencakup antara lain:

1. Ruang lingkup sistem manajemen mutu, termasuk proses yang dikecualikan beserta alasan pengecualiannya.

2. Prosedur terdokumentasi yang ditetapkan untuk sistem manajemen mutu, atau referensi untuk prosedur tersebut.

3. Uraian dari interaksi antar proses-proses pada sistem manajemen mutu (business process mapping).

Semoga bermanfaat